200 Penyuluh Garut Perkuat Transformasi Pertanian Lewat PM-AAS
Garut, 3 September 2026 – Transformasi pertanian tidak cukup hanya menghadirkan teknologi baru di lahan. Keberhasilannya juga ditentukan oleh kemampuan penyuluh meyakinkan petani bahwa teknologi tersebut sesuai dengan kondisi mereka dan memberikan hasil nyata. Pesan itu mengemuka dalam Rapat Konsolidasi dan Bimbingan Teknis Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang diikuti sekitar 200 penyuluh pertanian Kabupaten Garut di Taman Teknologi Pertanian (TTP) Cikandang, Kamis (3/9).
Penyuluh Pertanian Mahir wilayah kerja Kecamatan Cigedug, Hadiana, S.P., menilai posisi penyuluh sangat menentukan karena mereka berhadapan langsung dengan petani di lapangan. “Kita sebagai penyuluh berperan sebagai motivator, fasilitator, dan dinamisator di lapangan. Kita harus kuat memotivasi mereka supaya melaksanakan dan program ini berhasil,” ujarnya. Ia melihat PM-AAS sebagai bagian dari transformasi pertanian menuju sistem yang lebih modern, tetapi penerapannya tetap harus mempertimbangkan karakter setiap wilayah.
Menurut Hadiana, kondisi dataran tinggi di wilayah kerjanya membuat pemilihan varietas menjadi salah satu faktor penting. Pengalaman di lapangan menunjukkan varietas yang berhasil di suatu daerah belum tentu memberikan hasil yang sama ketika diterapkan di lokasi berbeda. “Kalau di wilayah kami sebetulnya dataran tinggi, jadi salah satu kendalanya di benih. Kalau penerapannya menggunakan Sarinah, insyaallah berhasil. Inpari sudah kami coba juga di dataran tinggi, tetapi hasilnya kurang,” katanya. Pandangan tersebut sejalan dengan salah satu prinsip PM-AAS yang menekankan penerapan teknologi secara spesifik lokasi.
Perspektif serupa disampaikan Aden Kurniawan, penyuluh pertanian Kabupaten Garut. Baginya, tahap awal penerapan PM-AAS menjadi momentum penting untuk membangun kepercayaan petani terhadap teknologi sekaligus terhadap pendampingan penyuluh. “Pada proses awal pelaksanaan PM-AAS ini, kredibilitas rekan-rekan penyuluh sangat dipertaruhkan. Kalau ini berhasil, insyaallah petani yang lain akan lebih mudah mengadopsi maupun menerapkan,” ungkapnya. Menurut Aden, petani cenderung lebih mudah menerima inovasi setelah melihat sendiri bukti keberhasilannya. “Petani itu harus melihat dulu hasilnya seperti apa, baru mereka yakin untuk mengikuti,” tambahnya.
Penguatan teknis dalam kegiatan tersebut disampaikan Dr. Tri Hastini, S.P., M.Si. dari BRMP Jawa Barat melalui materi teknologi PM-AAS dan pembuatan drum seeder. PM-AAS tidak hanya menempatkan mekanisasi sebagai ciri pertanian modern, tetapi mengintegrasikan efisiensi sumber daya, intensifikasi produksi, pengelolaan dalam skala luas, serta penerapan teknologi yang disesuaikan dengan kondisi lokasi. Materi drum seeder juga menjadi bagian khusus dalam sesi penguatan teknologi bagi penyuluh.
Bagi Aden, penyuluh menjadi penghubung penting agar teknologi tersebut tidak berhenti pada ruang pelatihan. “Peran penyuluh penting sekali dalam transformasi teknologi baru ini, untuk meyakinkan petani bahwa PM-AAS bisa meningkatkan produktivitas, efisiensi biaya produksi, dan pada akhirnya pendapatan petani,” ujarnya. Melalui penguatan kepada sekitar 200 penyuluh tersebut, BRMP Jawa Barat mendorong transformasi pertanian bergerak dari pemahaman teknologi menuju penerapan yang sesuai kondisi lapangan dan mampu membangun kepercayaan petani.
Saya lebih suka versi ini karena tokoh utama beritanya sekarang justru penyuluh, bukan pejabat. Pak Heidi memberi suara tentang kesesuaian teknologi dengan kondisi wilayah, sedangkan Pak Aden memberi elemen yang sangat menarik secara jurnalistik: “kredibilitas penyuluh dipertaruhkan” dan petani perlu melihat bukti terlebih dahulu. Itu membuat berita kedua benar-benar berbeda dari berita utama sebelumnya.